Ukuran Otak Dipengaruhi

Ukuran Otak Dipengaruhi Lamanya Masa Kehamilan dan Menyusui

UKURAN OTAK DIPENGARUHI Lahir prematur dan tidak memperoleh ASI menjadi factor penghalang perkembangan beberapa sel otak. Riset menunjukkan, lama waktunya periode kehamilan dan menyusu tentukan ukuran otak kesemua spesies mamalia terhitung manusia. Penemuan ini sekalian memperkuat saran banyak kelompok berkenaan keutamaan Air Susu Ibu (ASI) terbatas untuk anak. Makin lama memperoleh ASI eksklusif, karena itu perkembangan otaknya semakin lebih optimal hingga kepandaiannya akan bertambah.

Lahir prematur dan tidak memperoleh ASI menjadi factor penghalang perkembangan beberapa sel otak. Riset menunjukkan, lama waktunya periode kehamilan dan menyusu tentukan ukuran otak kesemua spesies mamalia terhitung manusia. Penemuan ini sekalian memperkuat saran banyak kelompok berkenaan keutamaan Air Susu Ibu (ASI) terbatas untuk anak. UKURAN OTAK DIPENGARUHI

Makin lama memperoleh ASI eksklusif, karena itu perkembangan otaknya semakin lebih optimal hingga kepandaiannya akan bertambah. Simpulan ini adalah hasil riset Prof Robert Burton dari Durham University di Inggris. Dalam risetnya itu, UKURAN OTAK DIPENGARUHI

Prof Burton memperbandingkan lama waktunya periode kehamilan dan menyusu pada 128 spesies mamalia atau hewan menyusui dan manusia. Rusa misalkan, mempunyai periode kehamilan sepanjang 7 bulan dan periode menyusui seputar enam bulan. Dibanding manusia yang hamil sepanjang 9 bulan dan menyusui sepanjang 18-24 bulan, rerata ukuran otak rusa 6 kali lebih kecil dibanding ukuran otak manusia.
“Salah satunya point keutamaan ialah, penemuan ini sama dan memperkuat tutorial WHO yang menyarankan ASI exclusive diberi sekurangnya sepanjang 18 bulan sampai dua tahun,” papar Prof Burton seperti diambil dari Telegraph, Selasa (29/3/2011). Awalnya, riset yang lain dikerjakan pada 14.000 anak umur balita memperlihatkan hasil yang lebih kurang sama. Lama-lama memperoleh ASI eksklusif, tingkat kepandaiannya condong semakin tinggi khususnya dalam soal kekuatan membaca, menulis dan berhitung.
Saat itu, belum seluruh orang mempunyai kesadaran untuk memberi ASI exclusive sama saran WHO. Di negara maju seperti Inggris saja, 22 % ibu-ibu tak pernah menyusui anaknya benar-benar, sesaat di Swedia cuman 2 % yang tidak melakukan.
Demikian pula di Indonesia, kesadaran untuk memberi ASI exclusive belum begitu menyenangkan. Hasil Penelitian Kesehatan Landasan (Riskesdas) 2010 memperlihatkan, cuman 15 % bayi di semua Indoneisa yang mujur memperoleh ASI eksklusif.